Mengapa Kebijakan Gubernur Jawa Barat Masuk Sekolah Lebih Pagi Perlu Ditinjau Ulang?

DJULI PAMUNGKAS/digitalMamaID Ilustrasi jam masuk sekolah lebih pagi.
Share

digitalMamaID — Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mengeluarkan kebijakan baru yang mengatur jam masuk sekolah lebih pagi. Kebijakan ini diatur lewat terbitnya Surat Edaran (SE) Gubernur Jawa Barat Nomor 85/PK.03/DISDIK tentang jam efektif pada satuan pendidikan di Provinsi Jawa Barat.

Dalam SE disebutkan agar jam masuk sekolah dimajukan menjadi pukul 06.30 berlaku mulai jenjang Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) sampai SMA dan yang sederajat. Surat edaran itu juga mengatur juga tentang waktu pembelajaran di masing-masing jenjang Senin hingga Kamis dan Jumat. Pada bagian akhir, edaran ini memuat tentang waktu malam yaitu pukul 18.00 – 21.00 WIB. Jam tersebut agar digunakan untuk kegiatan keagamaan, belajar di rumah, dan kegiatan bermanfaat lainnya.

Dalam edaran tersebut, disebutkan kebijakan ini dikeluarkan untuk mendukung pembentukan generasi berkarakter Pancawaluya di Jawa Barat, yaitu generasi yang Bageur (baik), Cageur (sehat), Bener (benar), Pinter (pandai), dan Singer (rajin). Menurut Dedi, perlu diatur jam belajar efektif yang mengoptimalkan kemampuan menyerap pembelajaran di pagi hari disesuaikan potensi usia peserta didik.

Menurut Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah, kewenangan dalam pengelolaan pendidikan dibagi antara pemerintah pusat, provinsi, dan kabupaten/kota. Pemerintah kabupaten kota berwenang mengelola pendidikan tingkat PAUD, SD, dan SMP. Sedangkan pemerintah provinsi berwenang mengelola SMA, SMK, dan SLB. Sedangkan pemerintah pusat mengelola kebijakan nasional, standar pendidikan, dan pendidikan tinggi. Akan tetapi, Surat Edaran Gubernur Jawa Barat soal jam pembelajaran ini ditujukan untuk Bupati dan Wali Kota se-Jawa Barat. Disebutkan pula, pemberlakuan kebijakan ini ditetapkan oleh pejabat yang berwenang.

Victory hour

Kebijakan yang digulirkannya ini tentu saja menuai pro dan kontra. Salah satunya dikemukakan oleh Peneliti Ahli Madya Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Ali Yansyah Abdurrahim.

Menurut Ali Yansyah, dalam buku The 5 AM Club karya Robin Sharma menceritakan tentang seorang pengusaha sukses, seorang mentor yang mengajarkan bahwa kebiasaan bangun pukul 5 pagi dapat mengubah hidup seseorang. Sharma menggambarkan, seseorang yang mengalokasikan waktu pagi harinya dengan aktivitas yang baik dan pengembangan diri akan membawa sebuah perubahan besar dalam kualitas hidup orang tersebut.

Dalam bukunya, Sharma memperkenalkan formula 20/20/20. Artinya, 20 menit untuk melakukan aktivitas fisik seperti berolahraga, 20 menit untuk refleksi seperti menulis jurnal, bermeditasi, maupun berdoa, dan 20 menit terakhir untuk mengembangkan diri, misalnya membaca buku atau mempelajari hal baru untuk memperkaya pengetahuan dan keterampilan.

“Jam 5 jam 6 pagi ini adalah victory hour, waktu paling sakral untuk membangun tubuh, pikiran, dan jiwa dan banyak tokoh sukses menjalani formula ini kemudian merasa hidupnya jadi lebih jernih dan terarah, tetapi Sharma mengingatkan bangun pagi pun harus dibarengi dengan istirahat yang cukup kalau tidak justru akan menjadi bumerang yang bisa merusak konsentrasi dan kesehatan terutama bagi anak-anak yang masih butuh waktu untuk tumbuh, bermain, dan istirahat,” kata Ali Yansyah dalam rekaman video di akun instagramnya.

Dalam Islam, waktu pagi disebutkan banyak memiliki keberkahan dan keutamaan sebagaimana dikatakan Nabi Muhammad SAW, “Ya Allah berkahilah umatku di waktu pagi mereka.” (HR Tirmidzi)

“Tetapi, Islam juga menekankan pentingnya keseimbangan bukan aktivitas tanpa persiapan. Jadi, apakah victory hour ini cocok diterapkan untuk anak-anak sekolah dengan cara masuk jam 6 pagi atau tidak? Setuju atau tidak setuju tentunya tergantung konteks kesiapan anak dan dukungan sistem,” ujar Ali Yansyah.

Banyak penelitian di barat justru menyebutkan bahwa anak yang masuk sekolah lebih siang memungkinkan anak lebih fokus dałam belajar. Sedangkan anak yang terlalu pagi masuk sekolah justru membuat anak akan kembali tidur di dalam kelas karena masih mengantuk. Hal ini mungkin terjadi karena anak dan remaja memiliki jam biologis tidur yang lebih lama, antara delapan setengah jam hingga sembilan seperempat jam.

Negara maju sekolah lebih siang

Sudah banyak negara-negara maju yang memiliki kualitas pendidikan yang lebih baik memilih menerapkan jam masuk sekolah pada pukul 08.30 dan 09.00 waktu setempat. Lalu mengapa Indonesia justru dimajukan menjadi lebih pagi?

Dikutip dari laman National Sleep Foundation (NSP), sebuah studi dilakukan oleh Dr. Kyla Wahlstrom di University of Minnesota, menunjukkan dampak dari penundaan jam masuk sekolah di Minneapolis Public School District mengubah jam masuk sekolah menengah dari dari pukul 7.15 pagi menjadi 8.40 pagi. Hasil penelitian menunjukkan jumlah kehadiran siswa di dalam kelas meningkat, siswa jarang izin sakit, siswa menjadi lebih fokus belajar, serta terjadi penurunan depresi yang dilaporkan siswa.

Peneliti lainnya, Mary Carskadon, Ph.D, seorang profesor psikiatri dan perilaku manusia di Universitas Brown, menyebutkan beberapa keuntungan bagi anak dan remaja yang mendapatkan jam tidur biologisnya terpenuhi. Antara lain, lebih kecil kemungkinan mengalami suasana hati tertekan, mengurangi kemungkinan terlambat datang ke sekolah, mengurangi ketidakhadiran, nilai yang lebih baik, dan mengurangi risiko defisit metabolik dan nutrisi yang terkait dengan kurang tidur, termasuk obesitas.

Carskadon juga menyebutkan dalam artikel lain yang diterbitkan The New York Times, bahwa anak-anak secara biologis siap untuk ‘tidur lebih awal dan bangun lebih awal’, tetapi saat anak-anak memasuki masa remaja, proses biologis membuat mereka tetap terjaga hingga larut malam. Bahkan jika tidak ada perpanjangan jam sekolah, banyak remaja sudah dalam masalah karena mereka kurang tidur.

Menurut Carskadon, siswa yang kurang tidur sangat memungkinkan tidak dapat mengikuti pelajaran dengan baik, misalnya dia mengantuk atau bahkan tertidur di dalam kelas. Sedangkan siswa yang memiliki waktu tidur yang cukup cenderung akan lebih siap belajar di kelas, memiliki semangat, dan memiliki konsentrasi yang baik dalam pemproses informasi. “Dengan demikian, siswa yang tidurnya cukup lebih siap untuk mengikuti kegiatan di sekolah,” tegas Mary Carskadon.

Penelitian terkini juga membuktikan bahwa tidur yang baik setelah belajar benar-benar dapat meningkatkan penyerapan informasi yang dipelajari sebelumnya, termasuk meningkatkan kemampuan mengingat dan mengkonsolidasikan memori.  “Jadi cara lain untuk membantu anak-anak belajar adalah dengan tidak memperpanjang jam di sekolah, tetapi memperpanjang jam yang dihabiskan untuk tidur di malam hari,” kata dia.

Reaksi orangtua

Meski sejauh ini belum ada pengumuman terkait implementasinya, kebijakan ini memantik reaksi publik, terutama orangtua. Dina Atma, seorang ibu yang tinggal di Kabupaten Bandung mengatakan, anaknya masuk sekolah pukul 7.30. Akan tetapi dia sudah harus berangkat dari rumah paling lambat pukul 06.30. “Lebih dari itu pasti sudah macet. Kalau masuk 6.30 harus berangkat jam setengah enam. Siap-siap sekolah jadi lebih pagi lagi, jam segitu anak mana bisa disuruh sarapan,” tuturnya.

Dewi, seorang ibu yang tinggal di perbatasan Kota Bandung dengan Kabupaten Bandung menuturkan, setiap pagi ia mengantarkan tiga anaknya ke sekolah bersama menggunakan kendaraan pribadi. Jadwal masuknya berbeda-beda. Paling pagi masuk jam 7, yang paling siang jam 7.30. Agar tidak ada anaknya yang terlambat, ia mulai meninggalka rumah pukul 5.30. “Macet banget. Tahu sendiri kalau di Bandung transportasi umumnya kan ga memadai, harus bawa kendaraan. Antar anak tiga bareng ya harus pakai mobil,” tuturnya.

Dengan jadwal yang lebih pagi, tentu akan mengubah jadwal antar ke sekolah. Ia berharap, kebijakan ini bisa ditinjau ulang. Paling tidak, sekolah tidak terburu-buru menerapkan surat edaran ini. “Dilihat dulu lah baik buruknya untuk anak-anak,” ujarnya. [*]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terpopuler

ORDER MERCHANDISE

Bingung cara ajak anak diskusi soal bahaya online tanpa menghakimi? 

Dapatkan solusi anti-panik untuk mengatasi hoaks, cyberbullying, dan mengatur screen time dalam Panduan Smart Digital Parenting