digitalMamaID — Dalam setiap proses pemberdayaan perempuan, dukungan terhadap peran mereka sebagai ibu tak bisa diabaikan. Di kegiatan Digital Queen, kehadiran Pusat Bahasa (Pusba) UNIKOM menjadi elemen penting sehingga memungkinkan para ibu mengikuti pelatihan secara fokus dan tenang. Melalui kegiatan biblioterapi, Pusba Unikom menyediakan berbagai aktivitas edukatif dan menyenangkan bagi anak-anak peserta juga penyelenggara program Digital Queen.
Pilot project Digital Queen diselenggarakan di Yayasan Pesentren Arafah, Cililin, Kabupaten Bandung Barat, Minggu, 15 Juni 2025. Sekitar 40 perempuan yang terdiri dari ibu rumah tangga dan pelaku UMKM ditambah dengan 20 volunteer dengan berbagai macam latar belakang mengikuti pelatihan bertajuk “Cililin Go Digital: Belajar Hari Ini, Berdaya Esok Hari”.
Sama seperti kegiatan-kegiatan digitalMamaID lainnya, Digital Queen dirancang ramah ibu dan anak. Kali ini, digitalMamaID berkolaborasi dengan Pusba UNIKOM untuk mengisi kegiatan anak-anak melalui bliobioterapi.
Blibioterapi
Blibioterapi sendiri merupakan salah satu program unggulan dari Pusba UNIKOM. Program ini mengintegrasikan kegiatan membaca karya sastra sesuai dengan usia serta menggunakan pendekatan psikologis dan pendidikan untuk memberikan terapi emosional dan mendukung pengembangan diri.
Biblioterapi dipilih untuk memberikan pengalaman positif dan edukatif bagi anak-anak di Cililin. Kegiatan ini fokus pada pembentukan karakter resilien dan pengenalan emosi dasar yang dimiliki anak-anak. Dalam setiap sesi, fasilitator Pusba UNIKOM akan memastikan bahwa semua anak, dari balita hingga remaja mengalami proses biblioterapi yang sesuai dengan tahap perkembangan mereka.
Ketua Divisi Pusba UNIKOM Retno Purwanisari mengaku sudah menyiapkan core desain khusus, serta berbagai rencana cadangan karena blibioterapi yang berkaitan dengan anak-anak yang sifatnya unpredictable. “Karena karakter anak-anak ini adalah karakter yang masih terus berkembang. Mereka memiliki keunikan masing-masing, maka pendekatan kita terhadap setiap anak berbeda, kita tidak bisa menyamakan,” ungkap Retno.
Tantangan terbesarnya adalah beradaptasi dengan anak-anak dan tidak memaksakan visi serta misi Pusba UNIKOM. “Kita diberikan kesempatan untuk menangani anak-anak usia empat sampai delapan tahun, maka kita harus masuk ke dunia mereka dahulu,” jelasnya.
“Meskipun pada akhirnya ketika kita melakukan metode tersebut, mereka akhirnya nge-blend dengan kita dan akhirnya bisa membuat mereka melakukan apa yang kita harapkan, yaitu bagaimana mereka bisa mengenali emosi mereka melalui pembacaan,” sambungnya.

Program khas Pusba UNIKOM
Pusba UNIKOM sendiri berdiri sejak tahun 2022, saat itu menurut Retno, namanya masih UPT Bahasa dan melayani kegiatan yang bersangkutan dengan kompetensi bahasa pada umumnya, baik itu English Proficiency Test (EPT), International English Language Testing System (IELTS) dan Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA).
“Namun pusat bahasa yang sekarang kami kembangkan di tahun ini, lebih luas lagi cakupannya. Tidak hanya bicara tentang kompetensi bahasa tetapi bagaimana bahasa berdampak kepada masyarakat,” jelas Retno.
Berbeda dengan pusat bahasa lainnya, Pusba UNIKOM tidak hanya bergerak pada layanan bahasa seperti IELTS, EPT, BIPA, kursus bahasa Jepang, Prancis dan Taiwan yang sebentar lagi akan mereka kembangkan. Namun, Pusba UNIKOM juga memiliki kekhasan tersendiri melalui dua program unggulan blibiotherapy capacity building dan digital literacy.
“Tujuannya adalah untuk memberikan ciri khas kepada Pusba UNIKOM, bahwa kita tidak hanya bergerak pada layanan bahasa pada umumnya tapi juga meluas ke ranah interdisipliner, di mana biblioterapi itu berkaitan bukan hanya dengan bahasa tetapi, juga berkaitan dengan psikologi, sosial dan antropologi,” jelasnya lebih lanjut.
Sementara program digital literacy merupakan program turunan dari visi dan misi UNIKOM. UNIKOM sendiri berkaitan dengan teknologi, maka Pusba UNIKOM pun mengambil peran bagaimana turut berkontribusi dalam pengembangan kesehatan mental ketika bersinggungan dengan dunia digital.
“Gerakan kami yang paling utama adalah mendukung literasi yang ada di Indonesia, dari satu langkah demi satu langkah. Pusba UNIKOM ini memang sekarang menjadi supporting division bagi UNIKOM yang berupaya untuk mencapai World Class University,” ungkapnya.
Untuk mencapai tujuan tersebut, maka Pusba UNIKOM ini mencoba untuk mengembangkan program-programnya, menjawab Sustainable Development Goals (SDGs) yang ada, baik nomor empat, tujuh dan tiga.
“Jadi berfokus pada pendidikan, kualitas pendidikan, kemudian kesehatan mental yang dalam pelaksanaannya tentu kita butuh partnership. Nah, dengan apa yang kita kerjakan sekarang berkolaborasi dengan digitalMamaID, itu adalah langkah pertama kami untuk bisa merealisasikan visi, misi, dan tujuan Pusba UNIKOM yang telah kami tetapkan di bulan Januari lalu,” lanjutnya.
Kolaborasi dengan digitalMamaID melalui Digital Queen
Pusba UNIKOM sendiri mengaku pada akhirnya memberanikan diri berkomunikasi dengan digitalMamaID dan terlibat dalam Digital Queen karena, sudah lama memantau kegiatan-kegiatan digitalMamaID. “Kita melihat ada titik temu dari visi dan misi Pusba UNIKOM serta digitalMamaID untuk kita bisa lebih memberdayakan masyarakat, baik secara ekonomi maupun secara intelektual,” ungkap Retno.
Melalui Digital Queen ini, Retno mengaku banyak belajar bahwa sebagai bagian dari masyarakat, kita bisa memberikan kontribusi berupa sumbangsih pengetahuan yang bisa dimanfaatkan oleh masyarakat kecil. Meskipun ruang lingkupnya tidak masif, kita bisa mulai dari hal-hal yang kecil.
“Jadi saya melihat ini adalah sebuah misi besar yang dibuat selangkah demi selangkah secara terstruktur dan buat saya ini adalah suatu hal yang amazing. Jadi makanya saya banyak mendapatkan pembelajaran dari proses ini,” katanya.
Menurutnya, orang-orang yang terlibat dalam Digital Queen ini juga merupakan orang-orang hebat yang mau membuka pikiran, secara terbuka menerima satu dengan yang lainnya. Setiap orang berupaya untuk mensukseskan acara ini dengan peran masing-masing dan hal ini menurutnya tidak mudah, mengatur sebuah event dengan komunitas-komunitas yang berbeda.
“Ini best practice yang saya dapatkan. Sebuah model yang bisa saya ambil untuk saya bisa lakukan dalam kesempatan yang lain,” katanya.
Jika diberi kesempatan untuk bekerjasama lagi dengan digitalMamaID menurutnya akan sangat menyenangkan. “Kami ingin terus berkembang dengan program-program yang lain. Jadi ajak kami lagi, ya! Jangan kapok,” pungkasnya. [*]






