Cerita Ibu-Ibu di Cililin Melawan Kesenjangan Digital: Langkah Kecil untuk Lompatan Besar

Pelatihan Digital Queen bertajuk “Cililin Go Digital” runtuhkan sekat kesenjangan digital.
Share

Pagi itu, Minggu 15 Juni 2025, sekitar pukul 08.00 WIB, aula yang semula sunyi perlahan berubah menjadi penuh kehidupan. Suara langkah kaki dan obrolan hangat mulai mengisi ruangan. Satu per satu peserta berdatangan—kebanyakan dari mereka adalah ibu-ibu warga desa yang ada di Kecamatan Cililin, Kabupaten Bandung Barat. Mereka datang dengan semangat yang begitu terasa. Ada yang menggendong anak balita di pelukannya, ada pula yang menggandeng tangan mungil putra-putrinya, seolah ingin mengatakan bahwa perjalanan menuju perubahan ini bukan hanya untuk dirinya, tetapi juga untuk masa depan anak-anak mereka.

Di tengah kesibukan harian yang biasanya penuh dengan tugas domestik, pagi itu mereka duduk bersama dalam satu ruang belajar. Mata-mata yang biasanya terbiasa menakar beras atau memintal harapan dari penghasilan suami, kini menatap layar dengan antusias. Mereka belajar hal-hal yang sering dianggap remeh oleh masyarakat perkotaan: cara memasarkan produk di media sosial, membuka toko di platform e-commerce, dan memahami makna literasi digital sebagai jalan baru menuju kemandirian ekonomi. Semua ini difasilitasi oleh Digital Queen, sebuah inisiatif digitalMamaID yang hadir untuk mengangkat potensi perempuan desa melalui pemberdayaan digital.

Pelatihan bertajuk “Cililin Go Digital” ini tak berlangsung di pusat kota, melainkan di Cililin, sebuah kecamatan di Kabupaten Bandung Barat yang terletak sekitar 30 kilometer dari jantung kota kembang. Wilayah ini menyimpan wajah Indonesia yang belum seluruhnya tersentuh gemerlap digitalisasi. Di tengah gencarnya transformasi teknologi, Cililin menunjukkan wajah kesenjangan digital negeri ini: keterbatasan akses internet, minimnya perangkat, dan rendahnya literasi digital masih menjadi tantangan besar, khususnya bagi para perempuan.

Namun pagi itu, semua keterbatasan seakan dilawan dengan keberanian. Di ruang itu, semangat untuk belajar dan bertumbuh menggantikan rasa takut dan minder. Karena ketika seorang ibu diberi akses, ilmu, dan kepercayaan, yang berubah bukan hanya dirinya, tapi juga ekosistem keluarganya, bahkan generasi setelahnya.

Dari door to door ke platform digital

Titin (32), ibu rumah tangga asal Kampung Kandang Sapi, Desa Bongas, Cililin ini mengaku sebenarnya sudah lama tertarik berjualan secara online, namun ia merasa sulit belajar karena keterbatasannya. “Kan gaptek (gagap teknologi), apalagi sekarang sudah punya anak mah susah,” ujarnya.

Jadi ketika dirinya mendengar akan ada pelatihan dari Digital Queen di Pondok Pesantren Arafah dari adiknya, tanpa banyak berpikir ia pun segera mendaftar. Titin sendiri sehari-harinya merupakan penjual sembako. Sebelum akhirnya memilih menyewa tempat berjualan, dirinya pernah berjualan dengan cara door to door ke rumah-rumah, sekolah dan TK-TK.

“Jadi saya mah, kalau ada yang mau dalaman, mukena, tas atau apa aja, saya sanggupin. Padahal sulit kan, kita barang dari mana gitu. Tapi di pikiran teh kalau ada yang bisa, langsung aja cari di pasar. Kan waktu dulu mah belum secanggih sekarang. Tapi Alhamdulillah pesanan teh sama seperti selera atau mirip dengan di majalah,” ungkap Titin.

“Sekarang mah lelah door to door. Jadi, ngontrak di depan jalan raya. Kemarin ada pelatihan itu, saya jadi ingin berjualan di TikTok atau Shopee gitu,” lanjutnya.

Titin sendiri sebenarnya sudah memiliki akun di TikTok Shop tapi, karena dirinya merasa kurang pengetahuan, akunnya menjadi tak terurus. Lewat pelatihan Digital Queen kemarin, dirinya mengaku sangat terkesan karena mendapat bimbingan bagaimana cara berjualan di marketplace seperti Shopee dan TikTok sedetail mungkin. “Saya teh ingin berterima kasih ke yang kasih materi, yang bimbing, semuanya, terkesan banget kemarin teh. Bahkan anak saya dijagain, saya punya ilmu,” katanya.

Saat praktik langsung bersama Evermos, Titin juga mengaku bisa check out buku dengan harga di bawah Rp30 ribu untuk anaknya lewat platform social commerce, Evermos. Bahkan voucher saldo Bank Aladin yang ia dapatkan, dibelikan sepatu untuk anaknya yang akan masuk sekolah TK tahun ini.

Lewat pelatihan ini Titin merasa sangat terbantu. Apalagi penghasilan suaminya yang tidak menentu sebagai kenek dan keuntungan berjualan sembako yang sedikit bahkan nyaris tidak ada keuntungan karena, ia pakai untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan kebutuhan sekolah dua anaknya.

“Jadi kurang modal saya teh, sembako seperti beras, minyak itu kan modalnya besar sedangkan keuntungannya kecil tapi cepat. Misalnya dari harga Rp15.000, paling untungnya Rp500 tapi cepat jual belinya. Kadang dibelanjain lagi, kadang buat cadangan sekolah anak. Jadi barangnya habis, modal juga habis. Biarin ya jujur juga,” ungkapnya.

Cerita tentang Kerupuk Daun Bambu

Lain lagi cerita Ibad Badriah (47), pelaku UMKM asal Kampung Tangan-Tangan, Bongas, Cililin. Meski usahanya sudah berkembang dan banyak dikenal, ia masih memiliki kendala serupa dalam permodalan dan pemasaran. “Rata-rata semua pelaku usaha ya kendalanya satu di permodalan dan kedua di pemasaran. Saya sendiri rada gaptek, tahu sih teorinya tapi, praktiknya kadang kurang paham. Apalagi saya sambil produksi,” ungkap Ibad.

Ibad sendiri merupakan pelaku UMKM yang bergerak di bidang kuliner. Ia memproduksi kerupuk daun bambunya sendiri sejak 2023. Walau terhitung baru, tapi kerupuk daun bambu ini sudah banyak dikenal di Kota Bandung, bahkan pernah meraih juara satu UMKM se-Indonesia. Serta berhasil mendapat Kredit Usaha Rakyat (KUR) dan bantuan peralatan dari BRI.

Berawal dari teman yang seorang pengusaha kerajinan bambu mengajaknya untuk berkolaborasi membuat produk bersama-sama. “Jadi mereka yang buat produk kerajinannya, saya yang buat bambu ini jadi makanan,” katanya.

Beberapa kali ia pun membuat uji coba, awalnya di uji coba pertama dan kedua Ibad menggunakan air beserta ampasnya. Namun, setelah dicoba ternyata kerupuknya meninggalkan rasa seperti tersedak di tenggorokan. Sampai enam kali percobaan, Ibad akhirnya memutuskan untuk menggunakan airnya saja. “Akhirnya kita hanya airnya saja. Kalau daun bambunya satu kilo, tepung tapiokanya satu sampai dua kilo-an,” ungkapnya.

Cara pembuatannya sendiri cukup mudah, daun bambu dicuci bersih lalu dipotong-potong kemudian diblender dengan dua centong air. Setelah itu dikukus lalu dijemur kemudian baru bisa digoreng. “Sama aja sih seperti kerupuk-kerupuk lainnya hanya, kerupuk daun bambu ini banyak seratnya, terus baik untuk diabetes dan cemilan diet,” katanya.

Untuk penjualannya sendiri, Ibad sempat memiliki toko di Shopee yang dikelola oleh anaknya. Namun, karena anaknya melahirkan dan setelahnya kembali mengajar. Ia pun hanya bisa berjualan secara offline melalui reseller-reseller, lewat bazar-bazar RW dan desa, atau toko-toko sekitar Bandung dan Lembang.

Melalui Digital Queen ini, Ibad berharap bisa menambah wawasan mengenai cara berjualan secara online dan bisa menambah relasi. “Di benak saya sih untuk menghasilkan tambahan uang, kita sebagai perempuan seperti yang Intan (pembicara) katakan, kita bisa jualan online,” katanya.

Ibad sendiri yang tergabung dalam komunitas Wanita Motekar mengajak 10 teman-temannya yang merupakan pelaku UMKM untuk ikut kegiatan Digital Queen ini agar lebih tahu tentang penjualan online, agar ibu-ibu yang memang usahanya di rumah bisa menghasilkan uang. Ibad mengaku senang berkomunitas dan ikut kegiatan seperti ini, ia pun sudah lama sering mengikuti pelatihan-pelatihan serupa di hotel-hotel sekitaran Bandung atau Lembang.

Produknya pun tidak hanya kerupuk daun bambu tapi, ada banyak seperti pepaya krispi, kicimpring, noga sari dari kacang, wijen dan kelapa yang sebetulnya sudah ia geluti lama, turun-menurun dari orang tua. Dari berbagai produk itu, Ibad mengaku bisa menghasilkan omset kotor perbulan sebesar Rp 5 juta sampai Rp 6 juta. “Kalau di 2023 sempat ya mencapai Rp 30 juta karena banyaknya reseller,” ungkapnya.

Namun, dalam merintis usaha kadangkala tak semulus kelihatannya, Ibad mengaku beberapa kali tertipu oleh reseller-reseller dengan tidak menyetor uang dan kabur. “Kemarin di Kunafe, ada pembayaran Rp 1,8 juta, uangnya dibawa kabur rekan. Jadi sekarang lebih baik sendiri, tidak pakai reseller kalau yang tidak jauh-jauh,” pungkasnya.

Titin, Ibad, dan 34 perempuan lainnya menuntaskan sesi belajar sepanjang delapan jam. Dengan wajah yang lelah namun mata yang berbinar, para ibu meninggalkan aula siang itu membawa lebih dari sekadar catatan pelatihan. Mereka pulang dengan rasa percaya diri yang tumbuh, semangat baru yang menyala, dan mimpi yang mulai mereka rajut sendiri.

Bagi sebagian orang, pelatihan semacam ini mungkin hanya serangkaian teori dan praktik digital. Namun bagi mereka, ini adalah langkah pertama untuk keluar dari batasan, untuk bersuara di ruang yang selama ini asing, dan untuk menunjukkan bahwa perempuan desa pun mampu melek teknologi, berdaya secara ekonomi, dan berdiri sejajar dalam arus zaman. Kini mereka menjadi ratu (queen) yang siap menaklukkan era digital. [*]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terpopuler

ORDER MERCHANDISE

Bingung cara ajak anak diskusi soal bahaya online tanpa menghakimi? 

Dapatkan solusi anti-panik untuk mengatasi hoaks, cyberbullying, dan mengatur screen time dalam Panduan Smart Digital Parenting