Review  Adolescence: Membuka Mata tentang Cyberbullying, Incel, dan Manosphere

Review Adolescence
Share

digitalMamaID – Netflix baru saja merilis serial terbatas terbaru berjudul Adolescence. Serial dengan empat episode karya Jack Thorne dan Stephen Graham yang disutradarai oleh Philip Barantini ini berhasil menempati peringkat teratas Netflix di berbagai negara dengan 24,3 juta penonton dalam kurun empat hari sejak dirilis.

Adolescence bercerita tentang seorang remaja laki-laki berusia 13 tahun bernama Jamie Miller.  Ia diduga melakukan pembunuhan terhadap teman perempuannya, Katie Leonard.

Sinopsis Adolscence

Adolescence dibuka dengan adegan yang sangat intens, yaitu penyergapan rumah keluarga Miller di pagi hari oleh sejumlah polisi sukses buat penonton ikut ketar-ketir dan berharap yang terjadi hanyalah kasus salah tangkap. Apalagi melihat Jamie yang masih di bawah umur sampai menangis dan mengompol pasti membuat iba siapapun.

Adolescence

Sampai akhirnya dibukalah CCTV pada hari kejadian di ruang interogasi, tertangkap jelas pelaku yang diduga Jamie menusuk Katie sebanyak tujuh kali dengan membabi buta. Eddie Miller, ayah Jamie sekaligus pendamping dewasanya, menangis kaget dan terpukul. Namun, masih berusaha untuk percaya dan mendukung Jamie sepenuhnya.

Investigasi pun mulai dilakukan secara mendalam di sekolah Jamie. Pada awalnya berjalan cukup sulit, anak-anak enggan terbuka dan kondisi sekolah yang kurang kondusif. Disini terlihat jelas bagaimana chaos-nya sekolah dan tidak ada rasa hormat pada guru. Terlihat juga kesenjangan yang terjadi antara generasi orang tua dan generasi anak-anak yang tumbuh dalam algoritma dunia maya.

Bullying hari ini tak perlu lagi menggunakan kalimat panjang atau kata-kata kasar tapi, cukup hanya dengan emoji, slang atau meme di sosial media. Maknanya sendiri hanya dipahami oleh mereka sendiri. Orang tua, guru bahkan polisi sendiri kesulitan untuk memahami.

Masa remaja memang masa pencarian jati diri, masa-masa yang rentan tersusupi ideologi-ideologi toksik dan radikal. Di episode terakhir, orang tua Jamie ingat betul, bagaimana Jamie pulang sekolah, naik ke lantai atas, membanting pintu kamarnya dan menghabiskan berjam-jam di depan komputernya. Mereka pikir Jamie aman dan melakukan hal yang benar.

Namun di era digital saat ini, kamar anak justru menjadi tempat yang rentan sekaligus berbahaya. Jamie yang tidak populer, tidak atletis, tidak percaya diri mendapat ejekan ‘incel’ lewat emoji di kolom komentar Instagram. Walau mengelak tapi, perlahan-lahan hal itu mempengaruhi cara berpikirnya.

Debut Owen Cooper

Debut Owen Cooper pemeran Jamie patut diacungi jempol, ia berhasil bersanding dengan aktor-aktor senior lainnya seperti Stephen Graham, Ashley Walkers dan Erin Doherty. Paling menarik adalah adegan sesi konseling bersama psikolog klinis, Owen berhasil berkali-kali menggambarkan kelabilan remaja dengan gejolak emosinya yang seperti roller coaster. Hal ini juga secara tidak langsung membuat stres penonton, ikut terkuras secara emosional, konfrontasi dengan anak dibawah umur ternyata bisa semenakutkan itu.

Adolescence

Erin Doherty, pemeran psikolog pun berakting dengan apik, terlihat beberapa kali wajahnya di zoom. Terlihat mata serta ekspresi kebingungan sekaligus ketakutan orang dewasa berhadapan dengan anak yang terlihat tenang dari luar namun, ternyata impulsif, haus validasi dan mudah terdorong emosi. Adegan ini banyak dipuji dan dinilai sempurna. Erin juga berhasil mengakhiri momen intens konfrontasinya dengan sedikit linangan air mata.

Menggunakan teknik one continuous shot, teknik pengambilan gambar satu kali tanpa cut. Teknik ini membuat penonton seolah ikut hadir di dalamnya, mengikuti gerak-gerik pemain secara real time, pindah dari satu tempat ke tempat lainnya, seperti ikut dalam mengungkapkan kasus.

Walau minim edit, teknik ini memiliki beberapa tantangan, dimulai dari biaya produksi yang mahal, lalu persiapan berbulan-bulan, latihan berulang kali para pemain, kameramen dan sejumlah kru yang terlibat sampai akhirnya di produksi. Selain itu, kesalahan sedikit saja yang terjadi, pengambilan gambar harus dimulai dari awal lagi. Beruntung, serial ini diisi oleh jajaran pemain yang tidak perlu diragukan lagi kemamuannya, semua berakting dengan baik dan natural.

Angkat gagasan incel sampai bahaya smartphone

Kepada CNN, Jack Thorne, penulis Adolescence bersama Stephen Graham membuat gagasan incel menjadi fokus utama dalam serial. Menurut Throne, pembahasan ini menarik untuk diangkat.

“Gagasan di balik budaya incel sangat menarik karena gagasan tersebut masuk akal untuk banyak hal, seperti perasaan terisolasi , harga diri rendah, perasaan tidak menarik. Gagasan tersebut memberi tahu bahwa ada alasan mengapa dunia menentang kita, karena dunia dibangun dari sudut pandang perempuan, dan para perempuan ini memiliki semua kekuasaan. (Gagasan ini menunjukkan bahwa) kita perlu memperbaiki diri, dengan pergi ke pusat kebugaran, belajar cara memanipulasi dan belajar cara menyakiti,” ungkapnya.

Thorne juga mengatakan bahwa smartphone bisa menjadi boomerang untuk anak-anak yang sedang mencari jati dirinya. Bukan tentang smartphone-nya tapi apa yang diakses di dalamnya, yakni media sosial.

“Saya pikir kita perlu menemukan cara untuk menangani media sosial. Bagaimana kita melakukannya dengan orang-orang yang mengatur media sosial akan sangat sulit, apalagi platform sendiri tidak memiliki pengawasan. Di Amerika, bahkan tidak ada undang-undang yang mengatur,” ungkap Throne.

“Di Inggris, kami mencoba berbicara dengan pemerintah tentang era persetujuan digital. Di Australia, anak di bawah 16 tahun dilarang menggunakan media sosial dan merupakan tanggung jawab perusahaan media sosial untuk melarang mereka menggunakannya,” lanjutnya.

Dikutip dari The Guardian, Thorne kembali menekankan pencegahan isu misoginis di kalangan anak sekolah, yakni dengan menjauhkan mereka dari smartphone. Orang tua dapat mencoba mengatur hal ini, sekolah dapat menghentikan akses telepon seluler, tetapi masih banyak yang perlu dilakukan. Harus ada dukungan pemerintah karena ide-ide yang diungkapkan berbahaya di tangan yang salah dan otak anak muda tidak siap untuk mengatasinya.

“Jamie bukanlah produk sederhana dari ‘manosphere’. Ia adalah produk dari orang tua yang tidak melihat, sekolah yang tidak peduli, dan otak yang tidak menghentikannya. Tempatkan 3.000 anak dalam situasi yang sama dan mereka tidak akan melakukan apa yang ia lakukan. Namun, luangkan waktu di forum 4chan atau Reddit, luangkan waktu di sebagian besar platform media sosial dan kamu akan berakhir, dengan cukup cepat, di beberapa tempat yang gelap,” ungkapnya.

Penelitian dari Institute for Strategic Dialogue (2021) menyebut bahwa algoritma media sosial sering merekomendasikan konten misoginis kepada remaja laki-laki. Survei lain juga belum lama ini mengungkap bahwa 40 persen dari anak-anak berusia 14 hingga 17 tahun menghabiskan sedikitnya enam jam sehari dalam menggunakan media sosial. Itu setara dengan satu hari sekolah.

Apa itu incel?

Menurut @ibupedia istilah incel berasal dari istilah involuntary celibate. Sederhananya adalah julukan untuk kaum laki-laki yang merasa tidak mampu menarik minat atau terlibat secara seksual atau romantis dengan lawan jenis (padahal ingin). Akhirnya mereka menyalahkan perempuan atas kesepian mereka.

Di dunia incel, laki-laki yang kesepian, tertolak dan merasa gagal saling sharing dan menyulut kebencian. Mereka semakin marah dan ingin membalas. Perempuan dianggap sebagai objek seksual yang hanya tertarik pada pria tampan dan kaya. Dari sekedar diskusi berubah menjadi keyakinan bahwa perempuan memang musuh hingga menjadi aksi kekerasan.

Adolescence

Dikutip dari Britanicca, salah satu simbol terpenting dalam komunitas incel adalah gagasan tentang ‘pil merah’ atau ‘pil biru’. Metafora ini diambil dari film The Matrix (1999), di mana karakter Keanu Reeves, Neo, harus memilih antara meminum pil biru, yang akan membuatnya tetap dalam keadaan ketidaktahuan yang damai, atau pil merah, yang akan membangunkannya pada realitas yang tidak nyaman tetapi mencerahkan.

Khususnya di kalangan alt-right atau ‘manosphere’ komunitas daring anti-feminis yang sering dikunjungi oleh kelompok misoginis, termasuk aktivis hak-hak pria (MRA), PUA, Men Going Their Own Way (MGTOW), dan incel. Di manosphere, redpilling merujuk pada merangkul gagasan bahwa ketidakbahagiaan pria dan kurangnya keberhasilan seksual adalah kesalahan wanita dan feminis.

Serial ini bukan hanya mengguncang sekaligus menjadi alarm untuk kita, sebagai orang tua, bahwa ada bahaya lain di atas sana, di dunia maya yang mengincar anak-anak kita. Selalu pantau aktivitas digital anak, apa yang diakses di dunia maya, pantau, beri pengertian mana yang baik dan tidak baik.

Mengutip kata-kata dari Novita Tandry, psikolog anak, remaja dan keluarga dalam instagram pribadinya. Bangun koneksi dengan anak, hadir secara emosional, komunikasi yang baik, bimbingan dengan penuh kasih sayang adalah kunci membantu anak melewati masa remajanya tanpa kehilangan arah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terpopuler

ORDER MERCHANDISE

Bingung cara ajak anak diskusi soal bahaya online tanpa menghakimi? 

Dapatkan solusi anti-panik untuk mengatasi hoaks, cyberbullying, dan mengatur screen time dalam Panduan Smart Digital Parenting