Pendakian Terakhir “Mamak Pendaki” Lilie Wijayanti dan Elsa Laksono

Elsa Laksono dan Lilie Wijayanti Poegiono “Mamak Pendaki”. Mereka meninggal karena terkena indikasi gejala acute mountain sickness (AMS).
Share

digitalMamaID — Dunia pendakian gunung di Indonesia sedang dirundung duka. Dua orang pendaki perempuan meninggal dunia usai turun dari Puncak Gunung Cartenz Pyramid di Papua pada akhir pekan lalu. Dua mama pendaki ini yaitu Elsa Laksono dan Lilie Wijayanti Poegiono. Mereka meninggal karena terkena indikasi gejala acute mountain sickness (AMS).

Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) memastikan, 13 orang pendaki Puncak Cartensz Pyramid lainnya dalam kondisi selamat. Termasuk penyanyi Fiersa Besari dan tiga orang warga negara asing (WNA). Selain itu, kelima guide atau pemandu pendakian atas nama Nurhuda, Alvin Perdana, Arlen Kolinug, Jeni Dainga dan Ruslan juga dipastikan selamat.

Berpulangnya sang pemersatu

Jenazah Lilie Wijayati ini telah disemayamkan di rumah duka di Jalan Nana Rohana, Bandung, Jawa Barat. Rencananya jenazah Lilie akan dimakamkan di San Diego Hills, Karawang, Jawa Barat. Salah seorang kerabat Lilie, Chandro Simarnata, mengenang Lilie sebagai sosok pemersatu yang penuh semangat dan kepedulian.

“Jadi mama itu tuh menurut kita adalah pemersatu untuk kita semua. Jadi dengan kejadian kayak begini tuh kita semua emang benar-benar sangat kehilangan,” kata Chandro, Selasa, 4 Maret 2025.

Chandro menuturkan, Lilie memiliki kepribadian yang mudah berbaur dan mampu membangun kebersamaan di antara orang-orang di sekitarnya. Meski acara mendadak pun, Lilie mempersiapkan segalanya dengan sangat baik, berkaitan dengan acara apapun bahkan acara pendakian. Kegigihan Lilie juga dalam menjalani latihan dengan penuh persiapan matang selama hampir setahun sebelum mendaki Puncak Carstensz Pyramid.

“Benar-benar mama itu tuh prepare dan tanya ke pendaki-pendaki memang yang lebih profesional. Jadi bukan yang tiba-tiba datang dengan modal nekat, enggak. Jadi memang semua sudah benar-benar persiapan yang sangat matang,” ujar dia.

Chandro mengenal Lilie sejak tiga tahun lalu, dan selama itu mereka hampir tidak pernah absen mendaki bersama setiap minggu dengan lebih dari 20 gunung yang telah dia taklukkan. “Kesan yang paling diingat kayaknya semuanya ya. Semangatnya, terus keikhlasannya sih yang benar-benar memang tulus untuk membantu orang,” kata dia.

Influencer Mamak Pendaki

Lilie memang dikenal sebagai influencer yang kerap membagikan aktivitas pendakiannya ke ranah digital, khususnya Instagram. Dia juga menasbihkan akun Instagramnya sebagai ‘Mamak Pendaki’. Meski usia tak lagi muda, sejumlah gunung di Indonesia telah Liliek taklukkan.

Dalam salah satu status di akun Instagram pribadinya, dia pernah menuliskan, “Forever Young? Cuman ikutin trend forever young aja… Tapi senang juga ngumpulin foto-foto masa lalu sampai ketawa-ketawa menertawakan diri sendiri. Sedikit kebahagiaan yang berarti ketika kita bisa menerima keadaan dan segala kondisi kita apa adanya bukan?”

Dia juga pernah mengenang saat berusia 18 tahun, dia mendaki gunung menggunakan sepatu basket, celana katun dan jaket apa adanya. Namun bisa mencapai Kalimati di Gunung Semeru. Lilie juga pernah bercerita, keberaniannya mendaki gunung karena sudah digembleng masuk tantara usai SMA.

“Jadi jangan heran kalau mak berani. Krn sudah digembleng pendidikan militer gaes,” kata Lilie.

 

View this post on Instagram

 

A post shared by Lilie Wijayati (@mamakpendaki)

Lilie juga mengaku pernah mengalami over weight saat usia 48 tahun dengan berat 68 kilogram. Tiga tahun berolahraga di gym, berat badannya Kembali stabil. Dia mulai Kembali mendaki saat berusia 50 tahun, dimana anak-anaknya sudah punya kesibukan masing-masing.

“Di usia 59 tahun, aku masih terus mendaki. Setiap langkahku adalah pengingat akan perjuangan para pahlawan. Indonesia, layaknya sebuah pendakian panjang, penuh tantangan, tapi juga keindahan. Meski kita menginjak bumi yang berbeda, kita sama-sama memandang langit, matahari, dan bulan yang sama. Mari terus bergandengan tangan, menjaga persatuan dalam keberagaman. Dirgahayu Negeri!” tulisnya.

Di mata Fiersa dan Nadien

Fiersa Besari, yang juga bagian dalam tim pendakian Gunung Cartenz Pyramid, menyampaikan rasa dukanya kepada Lilie dan Elsa. “Turut berduka atas berpulangnya Bu Lilie Wijayanti Poegiono (Mamak Pendaki) dan Bu Elsa Laksono. Semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan dan kekuatan,” kata Fiersa di akun Instagram pribadinya.

Fiersa menjelaskan, dia dengan Lilie dan Elsa berbeda tour operator. Dia bersama dalam tim yang terdiri dari 3 orang. Sedangkan Lilie dan Elsa dalam tim berisi 4 orang. Fiersa pun baru mengetahui tim yang ada Lilie dan Elsa terjebak di area tebing saat dia tiba di basecamp YV.

“Kita pakai energi untuk berdoa. Beri ruang untuk keluarga dan kerabat yang berpulang untuk berduka,” kata Fiersa.

Mantan Putri Indonesia Nadine Chandrawinata juga menyatakan duka citanya. Nadine pernah menaklukkan Gunung Cartenz Pyramid pada Mei 2016 lalu.

“Sangat sedih mendengar berita duka tentang pendakian dan perjalanan pendakian selalu membuat saya lebih mengerti arti berdamai dengan diri sendiri. Turut berduka atas kepergian Ibu Lilie dan Ibu Elsa,” kata Nadine. [*]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terpopuler

ORDER MERCHANDISE

Bingung cara ajak anak diskusi soal bahaya online tanpa menghakimi? 

Dapatkan solusi anti-panik untuk mengatasi hoaks, cyberbullying, dan mengatur screen time dalam Panduan Smart Digital Parenting