digitalMamaID — Saat anak lahir, lahir pula seorang ibu. Momen membahagiakan ini sering menihilkan perasaan ibu yang berkecamuk. Motherhood tak seindah unggahan momfluencer yang selalu tampil cantik, mempesona, nyaris tanpa cela. Segala pergulatan batin ibu baru muncul kembali saat menonton Baby Ruby. Film menarik tapi juga sebuah menjadi trigger bagi para ibu.
Sinopsis Baby Ruby, momfluencer yang “sempurna”
Film ini bercerita tentang Jo, seorang influencer yang hidupnya serba teratur dan estetik. Jo mengelola website yang berisi cerita hidup kesehariannya, termasuk mencatat perjalanan kehamilannya.
Jo pandai memasak, ia juga piawai mendekor rumah, karirnya cemerlang, suaminya juga suportif—pokoknya goals banget! Tapi begitu Baby Ruby lahir, semuanya berubah. Bayinya menangis terus, Jo mulai kelelahan. Tubuhnya berubah, rumah berantakan, dan yang paling menyedihkan, dia merasa anaknya sendiri tidak menginginkannya sebagai ibu.
Jo mulai kehilangan kendali atas hidupnya. Merasa bersalah karena tidak bisa jadi ibu yang “baik” dan makin lama makin stres. Ada satu adegan diceritakan jo meninggalkan anaknya bersama suami di rumah. Ia berniat berkumpul dengan ibu-ibu muda lainnya. Akan tetapi, ia malah tertidur di mobil yang terparkir sampai seperti orang yang hilang kesadaran. Menurutnya, itu adalah tidurnya yang paling nyenyak. Mama pasti pernah ada di titik di mana rasanya cuma mau tidur sebentar dan lupa dunia, kan?

Motherhood tak seindah postingan media sosial
Film ini seperti sebuah tamparan keras: di balik postingan media sosial yang penuh foto bayi lucu dan rumah estetik, ada ibu-ibu yang sedang berjuang. Pada akhirnya, semua ibu tetap bisa mengalami baby blues atau bahkan depresi.
Yang paling sedih? Support system yang bagus saja belum tentu cukup buat menghapus tekanan jadi ibu, apalagi kalau tidak ada dukungan sama sekali. Jo punya suami yang perhatian, ibu mertua yang siap membantu, dan teman yang hadir di sekitarnya. Ternyata itu tetap tak cukup untuk menghapus rasa kesepian dan ketakutan yang ia alami.
“It’s not what I thought it would be (Ini tidak seperti yang aku bayangkan),” kata Jo. Kalimat ini pastilah pernah hadir di benak para ibu.
Banyak ibu mungkin pernah merasa hal yang sama. Berpikir bahwa menjadi ibu akan penuh kebahagiaan, tapi kenyataannya justru penuh tantangan yang melelahkan.
Cukup banyak adegan yang menampilkan Jo bercermin. Di salah satu adegan itu, Jo mendapati tubuhnya berubah. Payudaranya tersambung dengan pompas ASI. Perut kencangnya menghilang. Jauh berbeda dengan foto-foto yang terpampang di websitenya.
Motherhood tidak hanya mengubah seseorang secara fisik, tapi juga mental. Perasaan rindu pada kehidupan sebelum menjadi ibu sering muncul, tapi pada saat yang sama, ada rasa bersalah yang terus menghantui.
Jangan ditonton jika sedang tidak baik-baik saja
Gambarnya yang dominan berwarna abu-abu dan gelap, ditambah dengan pengambilan gambar jarak dekat, dan musik yang intens berhasil menghadirkan ketegangan yang nyaris terjadi di sepanjang film.
Film ini sukses membuat kita merasakan emosi Jo. Menonton Baby Ruby seperti memanggil kembali ingatan-ingatan kita saat menantikan buah hati, melewati proses persalinan yang tidak mudah, dan melalui berbagai perubahan hari-hari setelahnya. Begitu menjadi seorang ibu, hidup tidak pernah lagi sama.
Bagi penonton yang suka film dengan akhir yang jelas dan optimistis, Baby Ruby mungkin akan terasa kurang memuaskan. Film ini berakhir dengan nuansa ambiguous, tanpa kepastian apakah Jo benar-benar pulih setelah mendapatkan bantuan profesional. Ini bisa membuat rustasi, apalagi kalau sedang dalam kondisi mental yang rentan.
Kalau Mama sedang merasa lelah, stres, atau baru saja mengalami masa-masa sulit sebagai ibu, lebih baik jangan menonton film ini dulu. Pastikan Mama siap secara emosional. Kalau perlu, tonton bareng teman atau pasangan supaya bisa ngobrol setelahnya.
Tekanan sosial
Yang membuat Baby Ruby terasa begitu nyata adalah bagaimana film ini menggambarkan baby blues dan tekanan sosial terhadap ibu baru. Banyak orang menganggap kelelahan dan perubahan emosi setelah melahirkan adalah hal wajar yang akan hilang dengan sendirinya. Padahal, kalau tidak ditangani dengan baik, ini bisa berkembang menjadi sesuatu yang lebih serius.
Ibu-ibu sering mendengar komentar yang tidak berempati.
“Harusnya bersyukur, kan punya anak sehat.”
“Namanya juga ibu, ya harus kuat.”
“Dulu ibu-ibu nggak pakai ngeluh kok bisa-bisa aja ngurus anak.”
Komentar-komentar seperti ini bukannya membantu, malah membuat seorang ibu makin merasa bersalah dan sendirian. Baby Ruby dengan jelas menunjukkan bahwa semua ibu, bahkan yang terlihat paling sempurna, bisa mengalami masa-masa sulit dan butuh dukungan nyata.
Tidak mudah menjadi seorang ibu dan Baby Ruby berhasil menangkap sisi gelapnya. Baby blues bisa jadi horor psikologis yang nyata bagi banyak ibu di dunia nyata.
Kalau Mama menonton film ini, pastikan mental sedang strong, ya! Dan yang paling penting, ingat: Mama tidak sendirian dalam perjalanan ini.
Baby Ruby tayang di Netflix! [*]






