Diet Media Sosial untuk Kesehatan Mental

Ilustrasi diet media sosial. Foto oleh Marot Khobtakhob dari Getty Images untuk Canva Pro.
Share

digitalMamaID – Penggunaan media sosial menjadi salah satu pemicu masalah kejiwaan. Sering penat setelah membuka media sosial? Mungkin ini saatnya untuk memulai diet media sosial! Bagaimanya caranya? Simak sampai tuntas ya, Mama!

Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI) dr. Eka Viora, Sp.Kj. menyebut, angka depresi terus meningkat dari tahun ke tahun.  Seperti dikutip dari Detikhealth, saat ini di Indonesia terdapat sekitar 15,6 juta penduduk yang mengalami depresi. Sayangnya hanya 8 persen yang mencari pengobatan ke profesional.

Media sosial dan kesehatan mental

Perkembangan teknologi saat ini telah membuka sekat-sekat ruang pribadi. Media sosial menjadi ruang terbuka bagi siapapun untuk membagikan pengalaman pribadinya. Mulai dari belanja produk tertentu, wisata kuliner, aktivitas travelling, hingga membagikan keharmonisan dalam keluarga. Bagi sebagian orang, konten ini menimbulkan kecemburuan.

Penelitian yang dilakukan University of Copenhagen menyebutkan, pengguna Facebook banyak yang mengalami “Facebook envy”, yaitu saat mereka merasa cemburu atau iri dengan unggahan pengguna lainnya. Kondisi ini dapat memicu penurunan percaya diri, bahkan depresi. Hal ini seperti ditulis oleh dr. Valda Garcia di Klikdokter.com.

Studi lain yang dilakukan University of Michigan menemukan, akses media sosial yang terlalu sering cenderung menimbulkan perasaan sedih, kebahagiaan sesaat, dan sedikit rasa puas dalam hidup. Perasaan ini bisa kian parah bila media sosial diakses menggunakan perangkat ponsel. Menurut Harvard Medical School, sinar biru yang dimiliki ponsel dapat mengganggu kerja melatonin, yaitu hormon yang berperan penting dalam mengatur tidur. Akibatnya penggunaan ponsel berlebihan dapat mengganggu kualitas dan kuantitas tidur.

Melalui media sosial, orang-orang semakin terbiasa untuk membangun hubungan di dunia maya namun lupa membangun hubungan di dunia nyata. Gadget dan sosial media telah “mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat”. Padahal, interaksi sosial dan keberfungsian keluarga terbukti mempengaruhi kesehatan mental. Keluarga lengkap dan fungsional dapat meningkatkan kesehatan mental anggota keluarganya. Hal tersebut penting untuk membangun kekebalan terhadap berbagai gangguan dan penyakit mental.

Wah, ternyata penggunaan sosial media berlebihan memang berdampak buruk bagi kesehatan mental kita ya, Mama. Lalu, apa hal yang bisa kita lakukan untuk mengatasinya?

Diet media sosial

Salah satu cara yang bisa kita lakukan ialah dengan mencoba diet media sosial. Diet media merupakan tindakan pembatasan interaksi dengan media (baik cetak, eletronik, maupun internet) yang bertujuan untuk mengurangi dampak buruk media.

Seperti diet makanan, ada makanan yang harus dikonsumsi setiap hari karena nutrisinya diperlukan tubuh. Namun, ada juga makanan yang dikonsumsi hanya sesekali sebagai selingan. Ada juga makanan tertentu yang harus dihindari karena dapat menimbulkan penyakit tertentu. Begitupun dengan diet media.

Ada konten yang harus kita simak setiap hari karena kita memerlukannya, tapi ada yang hanya perlu disimak sesekali. Selain itu, ada pula konten yang harus kita hindari sama sekali. Artinya, seharusnya pola konsumsi media sejalan dengan fungsi media itu sendiri untuk kita. Bila kita merasakan ketidaknyamanan karena berlebihan mengonsumsi isi media, maka kita perlu diet media, termasuk diet sosial media. Lalu, bagaimana cara diet media sosial?

Cara memulai diet media sosial

Dalam buku “Literasi Media: Apa, Mengapa, Bagaimana” karya Dr. Yosal Iriantara, membahas tentang gagasan Teresa Orange dan Louis O’Flynn tentang diet televisi. Nah, gagasan tersebut cocok juga diterapkan untuk memulai diet media sosial media. Ada tiga cara yang bisa dilakukan, yaitu:

  1. Menetapkan durasi maksimal penggunaan sosial media, misalnya dua jam per hari. Namun, bila kontrol diri lemah dan cenderung melanggar batas durasi maksimal, maka Mama bisa menghapus aplikasi sosial media yang berdampak buruk tersebut.
  2. Memilah konten. Sebagaimana konsep konsumsi yang sudah dijelaskan sebelumnya, maka Mama perlu menentukan mana konten yang diperlukan setiap hari, mana yang hanya sesekali, dan mana yang harus dihindari. Konten yang sesuai dengan value diri, menambah pengetahuan dan keterampilan, dan berkaitan dengan pekerjaan, bisa Mama akses setiap hari. Konten hiburan hanya sesekali. Sedangkan konten yang menimbulkan rasa tidak nyaman seperti penat, merasa rendah diri, atau sedih sebaiknya Mama hentikan aksesnya.
  3. Beralih kegiatan. Tetapkan aktivitas yang Mama pilih selama menjalani diet media sosial. Mama bisa manfaatkan waktu diet untuk membangun bonding yang berkualitas bersama keluarga, misalnya dengan bermain dan berkegiatan bersama anak-anak. Mama bisa juga mengunjungi saudara-saudara yang selama ini hanya terhubung di dunia maya. Selain itu, Mama bisa juga fokus berkegiatan untuk diri sendiri (me time), misalnya dengan membaca buku, berkebun, atau berolahraga.

Perlu kebijaksanaan diri agar media sosial tidak berdampak buruk bagi kesehatan mental kita. Mental yang sehat mewujudkan fisik yang sehat. Kesehatan mental dan jasmani memungkinkan kita untuk menunaikan segenap peran kehidupan. Jadi, bila suatu saat Mama merasakan ketidaknyamanan karena media sosial, jangan ragu untuk melakukan diet media sosial ya, Mama! [*]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *