Metode STIFIn: Menjelajahi Kecerdasan Manusia Melalui Sidik Jari

Metode STIFIn
Share

digitalMamaID – Setiap pasangan suami istri menginginkan komunikasi yang baik dalam upaya membangun hubungan yang harmonis. Bagaimana dengan Mama? Sudahkah Mama benar-benar mengenal diri sendiri dan pasangan dengan baik? Salah satu metode yang menarik untuk menjelajahi karakter manusia adalah Metode STIFIn.

Metode STIFIn dikembangkan sejak tahun 1999 oleh Farid Poniman. Ia mengembangkan teori kecerdasan manusia dari konsep Carl Gustav Jung, seorang psikiater asal Swiss. Jung memperkenalkan Teori Fungsi Dasar yang melibatkan Sensing, Thinking, Intuiting, dan Feeling. Dengan penelitian lebih lanjut, Farid Poniman mengembangkan teori ini menjadi Lima Mesin Kecerdasan Manusia, mencakup Sensing, Thinking, Intuiting, Feeling, dan Instinct.

Penting untuk diingat bahwa otak manusia memiliki lima belahan, masing-masing dengan peran unik dalam membentuk karakter, sikap, dan kecerdasan. Metode STIFIn menggunakan tes sidik jari untuk menentukan belahan dan lapisan otak yang dominan, yang kemudian dihubungkan dengan jenis kecerdasan tertentu.


Bagaimana cara kerja tes STIFIn?

Menurut Stifin Brain, tes STIFIn menggunakan alat untuk memindai sidik jari pada kesepuluh jari. Kemudian hasilnya diolah oleh aplikasi komputer. Hasil tes tersebut kemudian menunjukkan jenis kecerdasan yang dominan. Penyampaian informasi ini dapat membantu individu untuk lebih memahami karakteristik kepribadian mereka.

Ditemui usai sesi “Getting to Know You and Your Loved One eith STIFIn Method by Moria Kelana” yang digelar di acara The Evolution of Motherhood: A Festival of Love pada pertengahan Desember 2023, Aggy Rachmawati dari Moria Kelana menjelaskan kelima jenis kecerdasan manusia menurut Metode STIFIn:

1. Sensing

  • Bagian: Sistem limbik kiri bawah.
  • Peran: Talamus sebagai pengolah informasi panca indera.
  • Kecerdasan: Inderawi, detail-oriented, memiliki memori kuat, dan fisik.
  • Chemistry: Menyukai hal-hal yang dapat diukur oleh panca indera misalnya harta.
  • Love language: Hadiah.
  • Kelemahan: Rentan terbujuk dan boros.

2. Thinking

  • Bagian: Sistem limbik kiri atas.
  • Peran: Lobus frontal sebagai pusat analisa dan logika.
  • Kecerdasan: Analitik dan logika.
  • Chemistry: Tahta
  • Love language: Act of service.
  • Kelemahan: Terlalu normatif.

3. Intuiting

  • Bagian: Sistem neokorteks kanan atas.
  • Peran: Lobus oksipital mengolah daya imajinasi.
  • Kecerdasan: Kreatif dan beride out-of-the-box atau no box at all.
  • Love language: Words of affirmation.
  • Chemistry: Kebebasan untuk berkarya.
  • Kelemahan: Kurang baik dalam menyampaikan ide secara runut.

4. Feeling

  • Bagian: Sistem limbik kanan bawah.
  • Peran: Amigdala untuk pengelolaan emosi dan aspek sosial.
  • Kecerdasan: Emosional dan sosial.
  • Chemistry: Cinta.
  • Love language: Physical touch.
  • Kelemahan: Mudah tersinggung.

5. Instinct

  • Bagian: Otak tengah/hindbrain.
  • Kecerdasan: Serbabisa, naluri, rela berkorban.
  • Chemistry: Bahagia.
  • Love language: Kedamaian.
  • Kelemahan: Terkadang naif.

Aplikasi metode STIFIn

Fitria Rubiana atau Bubup, konsultan STIFIn di Moria Kelana sejak 2018 menuturkan, ilmu STIFIn ini sangat aplikatif di keluarga dan pekerjaannya. “Sebelum mengambil lisensi di tahun 2018, saya meriset terlebih dahulu selama tujuh tahun untuk mengetahui apakah ilmu ini memang bermanfaat atau tidak,” ujar ibu anak lima ini.

Pada awalnya, dia mengikutkan kedua anaknya untuk tes STIFIn setelah bercerai karena takut ada efek kurang baik dari perceraian yang dia alami. Setelah berkonsultasi, Bubup disarankan untuk menjalani tes juga agar penilaian hasil tes dapat menyeluruh. “Saat menjalani tes dan hasilnya keluar, dari situ saya mengetahui karakter saya, apa kekuatan dan kelemahan saya. Dari situlah saya mulai bangkit, karena bertepatan saat itu saya sedang berada di titik terendah dalam hidup, usaha saya bangkrut, bercerai dan kurang mempunyai hubungan yang baik dengan orang tua,” tambah Bubup.

Bubup menyampaikan, saat diberi tahu bahwa dirinya adalah sensing dengan drive ekstrovert mulailah dia kembali menata hidupnya kembali secara perlahan. “Kelemahan orang sensing itu adalah boros, dan kebetulan sesuai dengan yang saya alami. Saat itulah saya mencari bantuan untuk membantu keuangan saya. Juga disebutkan bahwa kekuatan orang sensing adalah fisiknya, sehingga dari situ saya mulai berolahraga,” ujarnya.

Memahami karakter

Setelah mengetahui mesin kecerdasan yang dimiliki Bubup dan anak-anaknya, mulailah dia beranjak mengajak tes kepada pasangannya yang baru dan orang tuanya. Menurutnya setelah mengetahui karakter-karakter orang-orang terdekatnya, hidupnya jadi lebih terarah karena komunikasi berjalan dengan baik.

“Saat komunikasi kita lancar, baik dengan pasangan, anak atau orang tua maka yang terjadi adalah saling mendukung, karena kita mengetahui cara berkomunikasinya,” ungkap Bubup. Menurutnya ilmu STIFIn membantunya dalam memahami karakter seseorang dan lebih menerima kekhasan masing-masing orang sehingga komunikasi lebih lancar dan kita dapat mencapai hal-hal yang diinginkan.

Tuhan sudah menitipkan segala potensi maksimal pada diri kita, tugas kita adalah mencari tahu dan mengenalinya. Saat kita tidak mengetahui potensi apa saja yang sudah diberikan maka kita bisa terbawa arus sehingga potensi alami yang sudah diberikan Tuhan tidak dijalani dengan maksimal. Jadi, apakah Mama tertarik untuk melakukan tes STIFIn? [*]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Bingung cari konten yang aman untuk anak?
 
Dapatkan rekomendasi menarik dan berikan pendapatmu di Screen Score!
Ilustrasi melatih anak bicara/Bukbis Ismet Candra Bey/digitalMamaID